Sekapur Sirih

Perguruan DARUL FUNUN El-Abbasiyah dirintis sejak tahun 1854 dengan nama Surau Gadang Padang Japang, dengan masyikhnya Syekh Abdullah Dt Jabok.

Pada perjalanannya sistem halaqah pada surau berubah menjadi sistem kelas pada tahun 1910. Perubahan nama pada tahun 1931-1932 dengan nama DARUL FUNUN El-Abbasiyah dengan masayikhnya Syekh Abbas Abdullah dan Syekh Mustafa Abdullah. Syekh Abbas Abdullah dikenal secara nasional atas pondasinya merintis perubahan sekolah agama dari sistem halaqah menjadi sistem kelas, dan juga menginduksi pendidikan sains dan umum kedalam kurikullum pendidikan surau.

Pada tahun 1960an, terjadi krisis nasional, yang juga berdampak pada lesunya ekonomi dan prioritas masyarakat untuk bertahan hidup, untuk menjaga tingkat literasi masyarakat, Perguruan DARUL FUNUN El-Abbasiyah mengambil mengorbanan yang sangat besar, yani pada tahun 1968 aktivitas perguruan dialihkan dan ditopang oleh Kementrian Agama dengan diinisiasinya Madrasah Negeri di Padang Japang.

Hingga pada tahun 1970 aktivitas Madrasah dilakukan di Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah sampai dibangunnya gedung sendiri milik Kementerian Agama. Dan satu persatu guru-guru dan siswa-siswa Perguruan DARUL FUNUN El-Abbsiyah dikaryakan oleh Kementerian Agama di Madrasah Negeri dan juga diperbantukan untuk membangun literasi di Indonesia, Sumatera Barat khususnya. Dan asrama-asrama Darul Funun menjadi asrama bagi pelajar-pelajar yang datang dari jauh.

Sejak dialihkannya aktivitas Perguruan di Madrasah Negeri, maka dirintislah pembukaan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah pada tahun 1970an, yang menginduk dengan STAIN Bukittinggi. Karena prioritas, kemampuan dan minat masyarakat untuk pendidikan tinggi yang kurang, dan juga sumber daya manusia yang tidak tersedia, pembukaan sekolah tinggi ini mulai terseok-seok sejak meninggalnya H Fauzi Abbas dan H Muis Abbas pada tahun 1980an.

Dan ini merupakan pukulan yang berat bagi DARUL FUNUN dan juga masyarakat Padang Japang dan sekitarnya. Aktivitas dakwah DARUL FUNUN masih dipertahankan dengan keterbatasan yang ada, sumberdaya materia yang belum pulih, sumber daya manusia yang banyak di perantauan, hingga detak denyut yang tersisa adalah aktivitas di Masjid Surau Gadang Padang Japang dan asrama untuk siswa Madrasah.

Dikarenakan permasalahan sosial masyarakat di Padang Japang khususnya, dan di Sumatera Barat secara umum, dimana terjadi ketimpangan tingkat pendidikan yang besar, dikarenakan yang berpendidikan pada umumnya berada di perantauan, hingga sampai pada masa dimana kawasan masyarakat dijangkiti oleh penyakit-penyakit sosial, seperti kejahatan, narkotika, obat terlarang, judi, kenakalan remaja, prostitusi, dan sebagainya.

Akhirnya pada tahun 1997, Yayasan Wakaf Darul Funun El-Abbasiyah menginisiasi kembali pembukaan kegiatan belajar mengajar untuk tingkat Tsanawiyah, yang di prioritaskan untuk membina anak-anak remaja yang terhimpit oleh permasalahan sosial dan ekonomi yang akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.

Dimulainya aktifitas Perguruan pada tahun 1997 untuk Madrasah Tsanawiyah dan 2002 untuk Madrasah Aliyah. Dengan inisiasi perintisannya kembali di amanahkan kepada H Bermawi Mukmin dan pengelolaanya di amanahkan kepada H Adia Putra.

Saat ini, di tahun 2018, Perguruan DARUL FUNUN sudah memiliki siswa aktif sebanyak 480 siswa, yang 50 orang diantaranya adalah anak dhuafa yatim piatu. Alhamdulillah, jumlah santri Perguruan DARUL FUNUN El-Abbasiyah sejak dirintis kembali tahun 1997 sudah mencapai kurang lebih 1800 santri.

Dengan opsi biaya yang lebih terjangkau, DARUL FUNUN mencoba memberikan alternatif dan jalan keluar bagi masyarakat dan keluarga-keluarga dhuafa untuk tidak buntu dengan pilihan pendidikan untuk anak-anaknya, karena budaya literasi masyarakat harus terus dipertahankan.