Tag: Marah

  • Jiwa yang Tenang adalah Satu Keberkahan

    Jiwa yang Tenang adalah Satu Keberkahan

    Oleh: Bey Abdullah

    Apakah sahabat pernah merasa bahwa jika tidak mengkritisi sesuatu, kita merasa tidak hidup? Atau merasa bersalah jika tidak mengambil sesuatu yang menurut kita menjadi hak kita? Atau bahkan merasa bahwa kita lebih berhak daripada orang lain atas suatu kedudukan, penghargaan, atau kesempatan?

    Sahabat yang dirahmati Allah, sesungguhnya Allah menciptakan berbagai kecenderungan dalam diri manusia dengan hikmah yang besar. Allah memberikan semangat kritis kepada para pemuda agar mereka bergerak, memperbaiki keadaan, dan tidak pasif terhadap kemungkaran. Allah memberikan rasa kepemilikan kepada anak-anak yang masih belajar memahami batas antara miliknya dan milik orang lain. Allah juga memberikan kegelisahan kepada manusia agar ia menjauhi bahaya, meninggalkan keburukan, dan berpindah dari keadaan yang mendatangkan mudharat menuju keadaan yang lebih baik.

    Namun, setiap nikmat memiliki kadar dan tempatnya. Ketika sesuatu melampaui batasnya, ia tidak lagi menjadi nikmat, melainkan ujian, bahkan bisa jadi Allah tarik keberkahan dalam hidup kita.

    Ketika seseorang memasuki usia matang tetapi yang semakin bertambah justru sikap kritis tanpa kebijaksanaan, mudah menyalahkan tanpa kemampuan memahami, gemar mengoreksi tanpa kemampuan merangkul, maka bisa jadi ketenangan telah dicabut dari hatinya. Padahal Allah memuji orang-orang yang memiliki hikmah dan kelapangan dada.

    Allah berfirman: “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sungguh dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah 2: 269)

    Hikmah bukan sekadar mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus mengoreksi, dan kapan harus memaafkan.

    Demikian pula kegelisahan. Pada asalnya ia adalah karunia. Orang yang gelisah karena dosa akan bertaubat. Orang yang gelisah karena kemiskinan akan berusaha. Orang yang gelisah karena kebodohan akan belajar. Tetapi apabila Allah membiarkan kegelisahan tumbuh pada perkara-perkara yang sebenarnya baik, maka kegelisahan itu dapat berubah menjadi hukuman yang menghilangkan kebahagiaan hidup.

    Ada orang yang gelisah terhadap nikmat yang dimilikinya. Gelisah terhadap keluarganya. Gelisah terhadap pekerjaannya. Gelisah terhadap sahabat-sahabatnya. Gelisah terhadap amanah yang Allah berikan. Akhirnya ia merusak apa yang sebenarnya telah baik. Ia mencari-cari kesalahan, membesar-besarkan masalah kecil, dan kehilangan kemampuan mensyukuri karunia Allah.

    Padahal Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: 216)

    Sahabat sekalian, salah satu nikmat terbesar yang sering terlupakan bukanlah harta, jabatan, atau kedudukan. Nikmat terbesar bagi hamba-hamba yang shaleh adalah jiwa yang tenang (nafs al-muthmainah).

    Allah menggambarkan puncak keberuntungan seorang mukmin dengan firman-Nya: “Wahai jiwa yang tenang (nafs al-muthma’innah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr 89: 27–30)

    Perhatikanlah, Allah tidak memanggilnya dengan sebutan “wahai orang kaya”, “wahai orang berilmu”, atau “wahai orang yang berkuasa”. Allah memanggilnya dengan sebutan jiwa yang tenang. Karena ketenangan jiwa adalah buah dari iman, tawakal, ridha, dan kedekatan kepada Allah.

    Allah juga berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d 13: 28)

    Ketenangan bukan berarti tidak memiliki masalah. Ketenangan adalah kemampuan melihat masalah dengan pandangan iman. Ketenangan adalah kemampuan menerima takdir Allah sambil tetap berikhtiar. Ketenangan adalah kemampuan bersyukur atas yang ada tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

    Rasulullah saw bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah (merasa cukup) terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

    Qana’ah bukan berarti berhenti berusaha. Qana’ah adalah hati yang tidak diperbudak oleh rasa kurang. Ia bekerja keras, tetapi jiwanya tetap tenang. Ia berjuang meraih kebaikan, tetapi tidak iri terhadap keberhasilan orang lain. Ia mengoreksi keadaan, tetapi tidak kehilangan kasih sayang kepada sesama.

    Maka nikmat ketenangan dari hati kita adalah sebuah keberkahan yang Allah berikan kepada hamba-hambanya. Jangan sampai sikap kritis berubah menjadi kebiasaan menyalahkan. Jangan sampai rasa memiliki berubah menjadi keserakahan. Jangan sampai kegelisahan yang seharusnya mendorong perbaikan justru menghancurkan kebaikan yang telah ada.

    Kita telah melihat contoh-contoh yang ada, pelajaran-pelajaran dari umat-umat yang terdahulu, bagaimana jiwa yang tidak tenang telah mendatangkan kemudharatan bagi dirinya juga bagi orang lain di sekelilingnya.